Melafazhkan niat, sesuai sunnah-kah?

Tuntunan yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam ketika seseorang memulai shalatnya adalah MENGUCAPKAN TAKBIR, bukan mengucapkan/melafazhkan niat.

Dari Ummul Mu’minin A’isyah Rodhiyallahu anha berkata:

كاَنَ رَسُوْلُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- يَسْتَفْتِحُ الصَلاَةَ بِالتَكْبِيْرِ

“Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- membuka shalatnya dengan takbir”

[HR. Muslim dalam Ash-Shahih (498)]

Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari a’rabi (seorang Arab dusun) yang tidak benar cara shalatnya dengan sabdanya:

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ

“Jika kamu bangkit (berdiri) untuk shalat maka bertakbirlah (yakni takbiratul ihram, pen).”

(Muttafaqun ‘alaih dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Jikalau MELAFAZHKAN NIAT itu bagian dari shalat, tentulah ORANG YANG PERTAMA KALI yang mengajarkannya dan mengamalkannya adalah RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAYHI WA SALLAM. Akan tetapi hal ini TIDAK BELIAU AJARKAN, TIDAK PULA BELIAU PERINTAHKAN, TIDAK PULA BELIAU AMALKAN. Akan tetapi yang beliau ajarkan/perintahkan/amalkan adalah MENGUCAPKAN TAKBIR pada permulaan shalat.

Demikianlah contoh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, Nabi kita dan Rasul kita, yang PATUT kita jadikan SATU-SATUnya pedoman dalam mengamalkan amalan shalih. Tidak patut kita mendahulukan pendapat selain beliau, jika telah tetap sunnah beliau. Jikalau

Allah berfirman:

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ ذَلِكَ خَيْرُُ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

Jika kalian berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama ( bagimu ) dan lebih baik akibatnya.

[An-Nisa’ : 59]

Allah juga berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Råbbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.

(An-Nisaa: 65)

[simak penjelasan tentang ayat diatas disini: http://abuzuhriy.com/?p=2417%5D

Jika ada yang bertanya “Lalu bagaimana dengan niat? bukankah tidak sah amalan apapun -termasuk shalat- jika tidak ada niatnya?!”

Dijawab, “Niat itu tempatnya di HATI, bukan untuk diucapkan dengan lisan. maka seseorang ketika hendak melakukan sesuatu, perbuatan tersebut tercipta dengan adanya niat dari orang tersebut, walaupun tidak ia ucapkan.”

Dan kita dapat melihat hal ini sebagaimana ditegaskan oleh ulama SYAFI’IYYAH yakni al-Imam Asy-Syarbini rahimahullah. Beliau berkata:

وَمَحَلُّهَا الْقَلْبُ ، وَلَا تَكْفِي بِاللِّسَانِ قَطْعًا ، وَلَا يُشْتَرَطُ التَّلَفُّظُ بِهَا قَطْعًا كَمَا قَالَهُ فِي الرَّوْضَةِ

“Niat letaknya dalam hati dan tidak perlu sama sekali dilafazhkan. Niat sama sekali tidak disyaratkan untuk dilafazhkan sebagaimana ditegaskan oleh An Nawawi dalam Ar Roudhoh.”

–selesai perkataan beliau–

Imam an Nawawiy berkata dalam ar Raudhah:

“Tidaklah sah puasa seseorang kecuali dengan niat. Letak niat adalah dalam hati, tidak disyaratkan untuk diucapkan. Masalah ini tidak terdapat perselisihan di antara para ulama.”

[Rowdhotuth Tholibin, 1/268]

Seorang Ulama dari kalangan madzhab Asy-Syafi’iyyah, Qodhi Abu Ar-Robi’ Sulaiman bin Umar Asy-Syafi’i -rahimahullah- berkata,

“Mengeraskan niat dan bacaan di belakang imam bukan termasuk sunnah, bahkan makruh. Jika lantarannya terjadi gangguan terhadap orang-orang yang sedang shalat, maka itu Haram!

Barangsiapa yang menyatakan bahwa mengeraskan niat termasuk sunnah, maka ia keliru, tidak halal baginya dan selain dirinya untuk menyatakan sesuatu dalam agama Allah tanpa ilmu”.

Syaikh Ala’uddin Ibnul Aththar asy Syafi’iy, dari kalangan madzhab Asy-Syafi’i -rahimahullah- berkata,

“Mengeraskan suara ketika berniat disertai gangguan terhadap orang-orang yang sedang shalat merupakan perkara haram menurut ijma’.

Jika tidak disertai gangguan, maka ia adalah bid’ah (–yaitu suatu perkara yang diada-adakan DALAM URUSAN agama, dalam rangka beribadah kepada Allah, yang tidak pernah ada tuntunannya dari Allah dan RasulNya–) yang jelek.

Jika ia maksudkan riya’ dengannya, maka ia haram dari dua sisi (bid’ah dan syirik ashghar), (dan ia) termasuk dosa besar.

Orang yang mengingkari seseorang yang berpendapat itu sunnah, orangnya benar. Sedangkan orang yang membenarkannya keliru.

Menisbahkan hal itu kepada agama Allah karena ia yakin itu agama, merupakan kekufuran. Tanpa meyakini itu agama, (maka penisbahan itu) adalah maksiat.

Wajib bagi orang mukmin yang mampu untuk melarangnya dengan keras, mencegah dan menghalanginya.

Perkara ini tidaklah pernah dinukil dari Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- , seorang sahabatnya, dan tidak pula dari kalangan ulama kaum muslimin yang bisa dijadikan teladan”.

[Lihat Majmu’Ar-Rosa’il Al-Kubro (1/254-257)]

Imam Jalaluddin Abdur Rahman bin Abu Bakr As-Suyuthy asy Syafi’iy -rahimahullah- , seorang ulama bermadzhab Syafi’iyyah berkata,

“Diantara jenis-jenis bid’ah juga adalah berbisik-bisik ketika berniat shalat.Itu BUKANLAH TERMASUK PERBUATAN Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dan para sahabatnya. Mereka tidaklah pernah mengucapkan niat shalat, selain takbir.

(Padahal) Allah -Ta’ala- berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh pada diri Rasulullah ada contoh yang baik bagi kalian”.

(QS. Al-Ahzab: 21)

Asy-Syafi’iy -radhiyallahu ‘anhu- berkata,

“Berbisik-bisik ketika berniat shalat, bersuci termasuk bentuk kejahilan terhadap syari’at, dan kerusakan dalam berpikir”.

[Lihat Al-Amr bil Ittiba’ wa An-Nahyu an Al-Ibtida’ (hal. ……)]

Syaikh Abu Ishaq Asy-Syairozy asy Syafi’iy -rahimahullah-, seorang pembesar madzhab Syafi’iyyah berkata ketika membicarakan tata cara shalat:

“…Kemudian ia berniat. Berniat termasuk fardhu-fardhu shalat karena berdasarkan sabda Nabi,

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

[“Sesugguhnya amalan itu tergantung niatnya dan bagi setiap orang apa yang ia niatkan” (Muttafaqun ‘alaih, dari shahabat ‘Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu)],

dan karena ia juga merupakan ibadah murni (mahdhoh). Maka tidak sah tanpa disertai niat seperti puasa. Sedang tempatnya niat itu adalah DI HATI.

Jika ia berniat dengan hatinya, tanpa lisannya, niscaya cukup. Di antara sahabat kami ada yang berkata,

[“Dia berniat dengan hatinya, dan melafazhkan (niat) dengan lisan”.]

Pendapat ini TIDAK ADA NILAINYA, karena niat itu adalah menginginkan sesuatu dengan hati”.

[Lihat Al-Muhadzdzab (3/168-bersama Al-Majmu’) karya Asy-Syairazy -rahimahullah-]

Imam An-Nawawy -rahimahullah- berkata ketika menukil pendapat orang-orang bermadzhab Syafi’i yang membantah ucapan Abu Abdillah Az-Zubairy (yang ia adalah orang yang pertama kali mengatakan bahwa niat itu dilafazhkan):

“Para sahabat kami -yakni orang-orang madzhab Syafi’iyyah- berkata,

[“Orang yang berpendapat demikian (yaitu melafazhkan niat) TELAH KELIRU. Bukanlah maksud Asy-Syafi’i dengan “mengucapkan” dalam shalat adalah ini (bukan melafazhkan niat). Bahkan maksudnya adalah (mengucapkan ) takbir”. ]”.

[Lihat Al-Majmu (3/168)]

Inilah yang menjadi MADZHAB SYAFI’IY dalam hal ini, menisbatkan bahwa dalam hal ini madzhab syafi’iy adalah melafazhkan niat, maka ini adalah KEDUSTAAN atas madzhab syafi’iy.

Pendapat ulama Syafi’iyah tersebut semakin dikuatkan dengan perkataan Ibnu Taimiyah. Beliau rahimahullah mengatakan,

“Niat itu letaknya di hati berdasarkan KESEPAKATAN ULAMA. Jika seseorang berniat di hatinya tanpa ia lafazhkan dengan lisannya, maka niatnya sudah dianggap sah berdasarkan kesepakatan para ulama.”

[Majmu’ Al Fatawa, 18/262]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan,

“Siapa saja yang menginginkan melakukan sesuatu, maka secara pasti ia telah berniat.

Semisal di hadapannya disodorkan makanan, lalu ia punya keinginan untuk menyantapnya, maka ketika itu pasti ia telah berniat.

Demikian ketika ia ingin berkendaraan atau melakukan perbuatan lainnya.

Bahkan jika seseorang dibebani suatu amalan lantas dikatakan tidak berniat, maka sungguh ini adalah pembebanan yang mustahil dilakukan.

Karena setiap orang yang hendak melakukan suatu amalan yang disyariatkan atau tidak disyariatkan pasti ilmunya telah mendahuluinya dalam hatinya, inilah yang namanya niat.”

[Idem]

Semoga bermanfaat

Sumber

– Rumaysho.com

– Muwahiid.wordpress.com

– akhwat.web.id

Tentang nasrulm2

Saya lahir di Medan 05 Nopember 1989, Saya berdarah Padang Sumatra Barat, Tamatan YPAI SMK ERIA 2008, Segala Sesuatunya hanya milik Allah SWT, Jika Allah Berkehendak.. tiada satupun yang bsa menghalang... karena Allah maha Besar...tiada yg berhak disembah kecuali Allah.. Tiada yang tak mungkin jika Allah menginginkan nya....
Pos ini dipublikasikan di Manhaj, News. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s